Masuklah Islam Secara Kaffah

SURAU NURUL AMIN MADIUN - Menjadikan Diri Islam Kaffah merupakan panggilan suci dari Allah SWT untuk memeluk agama secara utuh dan menyeluruh dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu

Islam kaffah, atau Islam yang sempurna dan menyeluruh, merupakan konsep yang sering dibahas dalam ajaran Islam. Secara harfiah, kata “kaffah” berasal dari Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 208:

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Ayat ini menekankan perlunya memeluk Islam secara total, tidak separuh-separuh, baik dari segi lahir maupun batin

Dalam pandangan tarekat sufi (tasawuf), Islam kaffah bukan sekadar pelaksanaan syariat lahiriah semata, melainkan integrasi sempurna antara dimensi zahir (luar) dan batin (dalam). Tarekat sufi memandang Islam sebagai bangunan bertingkat yang harus dilalui secara bertahap agar mencapai keselamatan dunia-akhirat

Para sufi sering menganalogikan Islam kaffah seperti kelapa yang memiliki lapisan-lapisan: kulit luar, sabut, tempurung, dan isi. Jika hanya mengambil satu lapisan, maka belum lengkap

 

Masuklah Islam Secara Kaffah

Empat Pilar Islam Kaffah dalam Tasawuf

Menurut para ahli tarekat sufi, Islam kaffah terdiri dari empat pilar utama yang saling melengkapi: Syariat, Tarekat, Hakikat, dan Ma’rifat. Keempatnya bersumber dari ajaran Rasulullah SAW, sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang populer di kalangan sufi:

Assyariati ‘ahwali, Attariqati ‘af’ali, Alhaqiqati ‘awwali, Almarifati assirri

Artinya: “Syariat itu adalah perkataanku, Tarekat itu adalah perbuatanku, Hakikat itu adalah kediamanku, dan Ma’rifat itu adalah rahasiaku.”

1. Syariat (Zahir/Luar)

Syariat adalah fondasi utama, berupa hukum-hukum Allah yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Ia mencakup ibadah (shalat, puasa, zakat, haji), muamalat (hubungan sosial dan ekonomi), akhlak, serta aturan halal-haram. Dalam istilah fiqih, syariat mengatur perbuatan mukallaf menjadi wajib, sunnah, mubah, makruh, atau haram

Para sufi menegaskan bahwa syariat adalah “perahu” yang membawa manusia menyeberangi lautan kehidupan. Tanpa syariat, tarekat tidak sah. Namun sebaliknya, syariat saja baru merupakan seperempat dari Islam kaffah. Ia seperti kulit luar kelapa penting, tetapi belum sampai ke inti 

2. Tarekat (Perjalanan Ruhani)

Tarekat adalah “nahkoda” atau jembatan yang menghubungkan syariat dengan hakikat. Ia merupakan jalan mujahadah (perjuangan melawan nafsu) dan riyadhah (latihan rohani) di bawah bimbingan seorang Guru Mursyid yang memiliki sanad (rantai silsilah) hingga Rasulullah SAW

Tarekat melatih hati agar khusyuk dalam beribadah, membersihkan akhlak tercela (seperti riya, sombong, iri), dan mendekatkan diri kepada Allah melalui dzikir, muraqabah, serta amalan sunnah yang mendalam

Imam Nawawi menyebut pokok tarekat ada lima: takwa kepada Allah, mengikuti sunnah, berpaling dari makhluk, rela dengan qadha Allah, dan kembali kepada-Nya dalam segala keadaan.Tanpa tarekat, syariat hanya menjadi rutinitas lahiriah yang kering

3. Hakikat (Esensi/Realitas Batin)

Hakikat adalah buah dari syariat dan tarekat, yaitu penyaksian (syuhud) kebenaran ilahi di balik segala amal. Pada tingkat ini, seorang salik (penempuh jalan) merasakan kehadiran Allah dalam setiap perbuatan. Shalat bukan lagi gerakan fisik semata, melainkan pertemuan hati dengan Tuhan

Hakikat adalah pulau tujuan, tempat di mana makna sejati ibadah terungkap. Syariat tanpa hakikat kosong, sedangkan hakikat tanpa syariat batal. Para sufi menekankan bahwa hakikat tidak boleh menafikan syariat; bahkan wali Allah sekalipun tetap melaksanakan shalat lima waktu dan ibadah wajib

4. Ma’rifat (Pengenalan Hakiki Allah)

Ma’rifat adalah puncak tertinggi, yaitu “bertemu” atau “mengenal Allah secara sebenar-benarnya” (Makrifatullah). Sufi mendefinisikannya sebagai “berjumpa Allah” di hati, di mana seorang hamba merasakan kehadiran-Nya secara langsung melalui dzauq (rasa) dan wijdan (pengalaman batin)

Ma’rifat adalah “rahasia Rasulullah” dan tujuan akhir perjalanan. Awaluddin adalah makrifatullah awal beragama adalah mengenal Allah dengan benar. Tanpa ma’rifat, ibadah bisa lalai dan hampa, karena hati tidak hadir 

Ke-empat pilar ini secara utuh integrasi yang saling melengkapi. Imam Malik pernah berkata: 

“Barangsiapa berfiqih (syariat) tanpa tasawuf, niscaya ia fasik. Barangsiapa bertasawuf tanpa fiqih, niscaya ia zindiq. Barangsiapa yang menggabungkan keduanya, maka ia telah mencapai hakikat.”

Imam Al-Ghazali, Hujjatul Islam, juga menjembatani fiqih dan tasawuf, menegaskan bahwa tasawuf adalah ruh bagi syariat. Syariat tanpa ruh batin ibarat tubuh tanpa nyawa, sementara ruh tanpa tubuh tidak memiliki bentuk yang sah di dunia

Mengapa Islam Kaffah (Syariat, Tarekat, Hakikat dan Ma'rifat) sangat penting?

Dalam pandangan tarekat sufi, banyak umat Islam hanya berhenti pada syariat (seperti menuntut penerapan hukum Islam secara formal), padahal itu baru seperempat jalan

Tanpa tarekat dan ma’rifat, ibadah menjadi mekanis dan mudah terganggu setan. Tarekat sufi menawarkan metode praktis untuk mencapai khusyuk, membersihkan hati, dan mencapai kedamaian sejati (kedamaian total, lahir dan batin)

Di Indonesia, tarekat mu’tabarah yang diakui ialah seperti Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, dll, menjadi sarana umat untuk mengamalkan Islam kaffah secara seimbang tidak ekstrem lahiriah semata, juga tidak melampaui batas syariat 

Islam kaffah adalah pengamalan agama secara utuh zahir dan batin, hukum dan hati, amal dan ma’rifat. Ia bukan sekadar aturan, melainkan perjalanan menuju Allah SWT yang penuh kasih sayang sebagaimana kata seorang Guru  Sufi: “Islam itu seperti kelapa, harus diambil semua lapisannya agar menjadi kaffah.”

Bagi yang ingin mendalami, bergabunglah dengan tarekat mu’tabarah di bawah bimbingan Guru Mursyid yang mempunyai silsilah rantai keruhanian tidak terputus sampai rasulullah SAW

Dengan demikian, kita bukan hanya Muslim yang taat lahir, melainkan hamba yang benar-benar “berjumpa” dengan Tuhannya

Itulah Islam kaffah yang sempurna. oleh karena itu Masuklah Islam Secara Kaffah lahir dan Batin